Masjid Al-Mubarok Berbek – Masjid Tertua di Kabupaten Nganjuk

Masjid Al-Mubarok Berbek menjadi masjid tertua di Kabupaten Nganjuk yang berlokasi di Jln. Mayjen Supeno No. 76, Desa Ngrawan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Masjid Al-Mubarok juga sering disebut dengan “Masjid Yoni Al-Mubarok karena terdapat Yoni Kuno di halaman masjid. Yoni Kuno tersebut kemudian diubah menjadi sebuah jam matahari yang dulunya digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kapan waktu sholat tiba.

Masjid Al-Mubarok Berbek

Kadang Kala Masjid Al-Mubarok Berbek juga sering disebut sebagai “Masjid Kanjeng Djimat”, merujuk kepada nama pendiri masjid ini. Wilayah Berbek sendiri merupakan awal mula dari berdirinya Kabupaten Nganjuk karena Kadipaten Berbek awalnya berdiri disini pada saat pemerintahan masih dipegang oleh adipati.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Mubarok Berbek

Pembangunan Masjdi Al-Mubarok pada awalnya didirikan oleh Kanjeng Raden Tumenggung Sosro Koesoemo, atau biasa lebih dikenal dengan julukan “Kanjeng Djimat”, Adipati Berbek pertama yang ditunjuk langsung oleh Keraton Ngayokyakarta pada tahun 1745.

Pada saat masa pemerintahannya, masih banyak sekali orang yang memeluk agama Hindu dari era kekuasaan majapahit, terutama untuk penduduk di kaki gunung wilis. Bukan pekerjaan mudah untuk dapat berdakwah di daerah kekuasaan yang masih dihuni oleh mayoritas penduduk Hindu. Namun upaya dan kerja keras dari Kanjeng Djimat membuahkan hasil yang manis, karena hampir seluruh rakyat di daerah tersebut mau memeluk agama islam secara sukarela.

Pada tahun 1745, Kanjeng Djimat kemudian ingin membangun sebuah bangunan tempat peribadatan umat muslim yang lebih besar, karena pada saat itu pemeluk agama islam sudah semakin meluas di daerah Berbek. Akhirnya, beliau mewakafkan sebidang tanah pekarangan miliknya untuk tempat didirikannya sebuah masjid yang kita kenal dengan Masjid Al-Mubarok hingga saat ini. Menurut sejarah, Masjid Al-Mubarok inilah masjid yang pertama kali dibangun di wilayah Kabupaten Nganjuk – dulunya dikenal dengan Kadipaten Berbek.

Namun, perubahan pemeluk agama tersebut tidak total, dimana masih ada minoritas dari rakyatnya yang bersikukuh untuk tetap memeluk ajaran nenek moyang mereka. Akhirnya, dengan bijak Sang Adipati tidak memaksakan hal tersebut, namun lebih menunjukkan simpatinya dengan memberikan sebuah lahan khusus untuk para pemeluk Agama Hindu, agar tidak terganggu dengan aktifitas umat muslim. Tempat khusus bagi pemeluk Agama Hindu tersebut dikenal sebagai Dusun Curik, Bajulan, Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Masjid yang pertama kali dibangun di Kabupaten Nganjuk ini memiliki salah satu artefak yang sudah berumur ratusan tahun, yaitu berupa Batu Yoni. Batu Yoni adalah batu yang digunakan untuk mengasah besi ataupun senjata, biasa disebut dengan batu ungkal. Saat ini batu tersebut sudah dirubah menjadi sebuah jam matahari dan masih dipertahankan kelestariannya hingga kini, meskipun hampir tidak digunakan lagi.

Arsitektural Masjid Al-Mubarok Berbek

interior Masjid Al-Mubarok Berbek

Selain Batu Yoni, terdapat beberapa ornamen masjid yang juga berusia ratusan tahun seperti Mimbar yang terbuat dari kayu jati yang dibuat pada tahun 1758. Kemudian Beduk yang dibuat pada tahun 1759 dan Atap Ijuk yang dibuat pada tahun 1760 yang akhirnya digantikan dengan sirap.

Pada komplek masjid ini juga terdapat pemakaman kuno pendiri masjid ini, yakni Kanjeng Djimat, yang selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah. Puncak keramaian pengunjung biasanya terjadi pada saat malam jum’at legi.

Cerita aneh dan unik pun juga pernah terjadi pada Masjid Al-Mubarok ini, tepatnya pada bedug yang sudah ada sejak tahun 1759 tersebut. konon, pada saat bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Baitussalam (Masjid Jami’ Kabupaten Nganjuk), keesokan harinya bedug tersebut sudah kembali dengan sendirinya ke Msajdi Al-Mubarok. Wallahua’lam Bissowab.

1 thought on “Masjid Al-Mubarok Berbek – Masjid Tertua di Kabupaten Nganjuk

  1. Mohammad RusliReply

    Mudik lebaran 2018 kemaren sekeluarga kami sholat ashar di masjid Al Mubarok ini.. Mengamati arsitek bangunan kokoh dan indah yang sudah tua (tapi masih terawat) seperti ini bisa membawa angan menerawang jauh ke masa saat masjid ini didirikan… timbul kekaguman dengan perjuangan mereka menegakkan islam saat itu jadi merasa kecil dan belum berbuat apa2..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *