Masjid Jami’ Al-Huda

Masjid Al-Huda yang dijadikan sebagai Masjid Jami’ untuk Desa Karyamukti ini terletak di Jln. Buahaseum No. 148, Desa Karyamukti, Kecamatan Lemahabang, Kebupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.

Masjid Jami’ Al-Huda

Jika melihat bangunan masjid ini untuk pertama kalinya, tentu kita akan merasa takjub bahwa masjid ini terlihat sangat kokoh berdiri. Dari namanya “Al-Huda” yang berarti “sebuah petunjuk” tentu saja maksud dari didirikannya masjid ini adalah sebagai sumber petunjuk dari Allah Sang Maha Pencipta.

Masjid ini dibangun dengan beberapa jejeran pilar berbentuk segi empat yang memberikan kesan kekar dan kokoh pada keseluruhan bangunannya. Kemudian beberapa lengkungan semakin menambah keindahan masjid ini, kemudian pagar dilantai atas juga membuat sebuah kesan tersendiri.

Beberapa jejeran pilar segi empat, lengkungan dibagian atasnya, kemudian pagar dilantai atas merupakan bagian terluar dari bangunan masjid ini, yang menutupi jati diri bangunan utamanya. Sedangkan bangunan utamanya sendiri merupakan sebuah bangunan berlantai dua dengan arsitektur khas Nusantara Indonesia, dengan atap limasan bersusun tiga. Pada tumpukan atap teratasnya dibuat sangat kecil, minimalis, yang hanya difunsikan sebagai tempat pengeras suara saja.

Pada bagian ujung tertinggi masjid ini dilengkapi dengan satu kubah dari metal yg juga berukuran kecil, dilengkapi dengan ornamen lafadz Allah dibagian puncaknya. Meskipun berdiri dengan sangat kokoh dipadukan dengan nuansa klasik, namun masjid ini tidak memiliki menara yang biasanya digunakan sebagai tempat pengeras suara. Pengeras suara adzan hanya dipasang pada atap limasan paling tinggi, kemudian beberapa diletakkan di pagar lantai dua.

mimbar Masjid Jami’ Al-Huda

Lokasi masjid ini terletak di pinggir jalan raya Syekh Quro, sehingga bagian kiblatnya mengarah langsung ke jalan raya. Kemudian pada bagian fasad depan yang menjorok keluar merupakan bagian dari mihrab. Mihrabnya mirip dengan Masjid Aimmatil Mujtahidin yang sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya, yang juga berlokasi di ruas jalan yang sama dengan masjid ini.

Jika di Masjid Aimmatil Mujtahidin bagian mihrabnya menggunakan 5 garis dari Glass Wall, berbeda dengan Mihrab pada Masjid Al-Huda yang justru hampir keseluruhan bagian mihrabnya menggunakan Glaass Wall.  Glass Wall disini bertujuan untuk jalan masuk cahaya kedalam masjid. Yang unik lagi dari masjid ini adalah bagian mimbar yang jika pada masjid lain terbuat dari kayu, mimbar di Masjid Jami’ Al-Huda ini justru terbuat dari beton yang dibentuk layaknya sebuah podium. Kemuan beton tersebut di balut dengan warna hijau dan putih, dan di beri lukisan lafadz “Allah” pada bagian tengahnya. Dibelakang mimbar terssebut di letakkan jam kayu klasik sebagai penanda waktu, serta diletakkan 1 kipas angin untuk penyejuk ruangan dalam mihrab.

Jika dilihat secara sekilas, tampak dari luar bahwa pembuatan masjid ini memang sengaja mengadopsi 2 budaya sekaligus. Yaitu budaya modern di bagian bangunan luarnya, dan budaya nusatara pada bangunan utama terutama atapnya. Karena terletak di jalan raya, tentu saja masjid ini tidak terlalu memiliki lahan yang luas untuk parkir.

Kemudian,  tempat berwudhu diletakkan di sisi kanan dan kiri masjid, yang bisa langsung diakses dari jalan raya. Pada sekeliling masjid ini juga masih terbilang cukup sejuk dengan pepohonan rindang di sekitarnya.

Sebagai sebuah Masjid Jami’, tentu saja Masjid Jami’ Al-Huda tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk sholat fardhu dan sholat jum’at saja. Namun, berbagai kegiatan lain seperti perayaan hari besar islam juga turut berpusat di masjid ini. Bahkan, kadang-kadang masjid ini digunakan sebagai acara akad nikah bagi pengantin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *