Masjid Agung Al-A’Raf Rangkasbitung – Lebak Banten

Jika kita pernah menonton film berjudul “Max Havelar” karya Multatuli, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok bernama Adipati Natanegara, salah satu tokoh antagonis yang muncul didalam film tersebut. Masjid Agung Al-A’Raf Rangkasbitung merupakan kompleks tempat bersemayamnya jenazah Adipati Natanegara tersebut. Sebagai catatan, Adipati Natanegara merupakan Bupati Kabupaten Lebak pada tahun 1830-an.

Masjid Agung Al-A’Raf Rangkasbitung

Rankasbitung sendiri merupakan ibukota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masjid Agung Al-A’raf sendiri terletak di Jln. Kaum, Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Sejarah Pembangunan Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung – Lebak, Banten

Pembangunan Masjid Agung Al-A’raf atau biasa juga dikenal sebagai Masjid Agung Rangkasbitung, atau juga biasa disebut Masjid Agung Alun-Alun Rangkasbitung dilakukan pertama kali pada tahun 1928, diatas tanah wakaf dengan luas sekitar 3.264 meter persegi. Pembangunan masjid ini memng sengaja dibuat dengan sangat luas, karena Masjid Al-A’raf memang ditetapkan sebagai Masjid Agung untuk Kabupaten Lebak, sehingga jamaah yang datang memenuhi masjid ini pastinya sangat banyak. Apalagi, tempatnya berada di sebelah Alun-Alun Kota Lebak, sehingga banyak sekali pengunjung yang datang ke Masjid ini setiap harinya.

Masjid Agung Al-A’raf ini sudah mengalami renovasi beberapa kali sejak pertama kali diresmikan. Renovasi pertama kali dilakuna pada tahun 1988, kemudian selesai pada tahun 2002 dengan menghabiskan dana sekitar Rp. 3 miliar. Renovasi pertama kali tersebut dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Drs. H. Yasa’a Mulyadi. Kemudian renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 2004 yang merupakan bangunan yang bisa kita lihat sampai saat ini. Renovasi kedua tersebut menghabiskan dana sekitar Rp.17,5 miliar, dan dilakukan pada masa pemerintahan Bupati H. Mulyadi Jayabaya.

Hal yang unik juga dimiliki oleh Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung, yaitu memiliki sebuah meriam tua yang masih digunakan hingga kini. Meriam tersebut digunakan untuk memberikan tanda waktu berbuka puasa dan Sahur pada setiap hari di bulan Ramadhan.

Arsitektural Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung – Lebak, Banten

interior Masjid Agung Al-A’Raf Rangkasbitung

Jika dilihat dari seni bina banguannnya, Majsid Agung Al-A’raf Rangkasbitung ini mengadopsi gaya klasik Jawa, namun dipadukan dengan gaya yang sangat modern. Gaya klasik bisa kita lihat dari atap masjidnya yang mengadopsi atap limasan seperti kebanyakan Masjid di Nusantara. Sedangkan gaya modern bisa kita lihat dari bangunan persegi panjang yang terletak di depan masjid, sebagai tempat plakat masjid dan juga seperti penghalang silau matahari. Hal ini dilakukan agar suasana didalam masjid tetap adem, sehingga jamaah akan tetap nyaman untuk beribadah didalam masjid.

Yang paling unik adalah adanya 1 menara yang pastinya tidak akan kita temui di masjid-masjid lain di Indonesia. Menara tersebut dibuat dengan sangat ramping, namun dibangun sebuah gazebo dibagian puncaknya dengan 8 jendela untuk melihat pemandangan keluar. Ujung puncaknya dibuat lancip dihiasi dengan kaligrafi bertuliskan “Allah”.

Gazebo pada menara tersebut memang sengaja dibuat untuk digunakan sebagai fasilitas bagi para wisatawan yang ingin melihat pemandangan disekitar kompleks masjid dari ketinggian. Para wisatawan diizinkan untuk memasuki dan naik ke menara tersebut hingga puncak untuk menikmati pemandangannya.

Karena memang menjadi Masjid Agung di Kota Lebak, pastinya penggunaan masjid ini tidak hanya sebatas tempat sholat saja. Banyak sekali kegiatan Islami yang dilakukan di masjid ini, seperti acara-acara pengajian, dan juga acara inti pada saat bulan puasa seperti Buka Puasa Bersama, dilanjutkan dengan sholat maghrib, lalu ada pengajian dari beberapa narasumber sambil menunggu waktu isya’ dan sholat tarawih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *