Masjid Al-Farooq Omar Bin Al-Khattab, Dubai, Uni Emirat Arab

Masjid Al-Farooq Omar Bin Al-Khattab berdiri dengan kokoh di Dubai, Uni Emirat Arab. Masjid ini diberi nama dengan nama “Omar Bin Al-Khattab”, atau “Umar Bin Khattab”, seorang Sahabat Nabi Muhammad yang menjadi Khalifah kedua setelah Abu Bakar As-Shidiq yang mendapatkan gelar “Al-Farooq”, yang artinya seseorang yang dapat membedakan kebenaran dan kepalsuan. Masjid Al-Farooq Umar Bin Khattab yang dapat kita lihat saat ini merupakan sebuah masjid hasil renovasi ulang. Sebelumnya, bangunan masjid Al-Faroor Umar Bin Khattab didirikan pertama kali pada tahun 1986, dengan bangunan yang cukup sederhana, dan memiliki luas yang kecil.

Masjid Al-Farooq Omar Bin Al-Khattab, Dubai, Uni Emirat Arab

Bangunan asli tersebut kemudian direnovasi dua kali, yaitu pada tahun 2003 dan kemudian pada tahun 2011 oleh Khalaf Ahmad Al-Habtoor, ketua kerajaan bisnis yang berkecimpung dalam bisnis penjualan kendaraan bermotor, hotel, rekayasa, hingga penerbitan. Beliau juga menjadi ketua untuk beberapa yayasan pendidikan terkenal di Dubai, Uni Emirat Arab. Peresmian penggunaannya pertama kali dilakukan pada tanggal 29 Juli 2011.

Dengan ukurannya yang cukup luas, Masjid Al-Farooq Umar Bin Khattab dapat menampung hingga 2.000 jamaah sekaligus, dan dianggap sebagai salah satu masjid terbesar di Uni Emirat Arab (UEA), dan terbesar ketiga dari seluruh masjid yang membuka diri untuk umum (bagi kunjungan non-muslim) setelah Masjid Syeikh Zayed Bin Sultan Al-Nahya Abu Dhabi, dan Masjidil Haram di Jumeirah.

Desain Bangunan Masjid Al-Farooq Umar Bin Khattab

interior Masjid Al-Farooq Omar Bin Al-Khattab, Dubai, Uni Emirat Arab

Sebuah prasasti di masjid tersebut merupakan prasasti kuno dari zaman kejayaan Emperium Usmaniyah / Ottoman yang di ilhami oleh Masjid Biru di Istanbul dan memiliki sentuhan Andalusia. Seni Andalusia dapat kita temukan pada sekolah islam yang dibangun di komplek tersebut, yaitu sebuah seni bangunan dari tahun 711 M ketika orang-orang Moor (Maroko) pertama kali mendarat di Spanyol Selatan.

Pengaruh budaya Moor (Maroko) tersebut sangat jelas di seluruh Eksterior dan Interior bangunannya, terutama dari ubin berwarna-warni yang diaplikasikan di pintu masuk bagian depan. Ubin warna-warni tersebut mengelilingi air mancur bergaya tradisional, hingga bentuk yang digunakan dalam desain interiornya.

Prasasti yang disebutkan diatas dipahat dengan tangan namual oleh setidaknya 60 pengrajin Maroko dari kota Fez, dan menjadi sebuah warisan Andalusia yang terbukti otentik.

Bagian dalam masjid memiliki banyak fasilitas, misalnya Karpet Sajadah yang melapisi lantai dibuat secara khusus di Jerman. Kemudian sebagai penyejuk ruangan di berikan AC di beberapa sudut masjid. Fitur lainnya adalah kubah utama setinggi 30 mter, di kelilingi setidaknya 15 kubah kecil dengan 4 kubah setengah lingkaran.

Luas total bangunan dan komplek mencapai 93.400 kaki persegi, sedangkan luas komplek masjid mencapai 8.700 meter persegi dan luas bangunan utama Masjid tersebut sekitar 4.200 meter persegi. Terdapat juga sebuah perpustakaan yang memiliki setidaknya 4.000 buku-buku besar karangan ulama muslim terkenal. Selain itu, terdapat beberapa bangunan pendukung lain seperti Ruang Klub Remaja Masjid, Ruang Kuliah, Ruang Kelas, Ruang Administrasi, dan bangunan perumahan yang dikhususkan bagi Imam dan Muadzin masjid. Seperti kebanyakan masjid-masjid di Tanah Arab dan Timur Tengah, Imam beserta Muadzin masjid diberikan fasilitas yang sangat memadai termasuk perumahan sebagai tempat tinggal di dalam komplek, dan tunjangan untuk kebutuhan sehari-harinya. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar tidak ada keterlambatan pada saat kumandang adzan maupun datangnya imam untuk sholat, sehingga sholat 5 waktu berjamaah dapat dilakukan tepat waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *