Masjid Bubrah – Demangan, Kudus

Masjid Bubrah yang berarti “Masjid Rusak” ini memang berupa sebuah bangunan masjid yang sudah hampir roboh, dan sudah tidak digunakan lagi. Akan tetapi, sampai saat ini bangunan ini tetap dipertahankan sebagai cagar budaya yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Letaknya di Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.  Desa Demangan sendiri merupakan sebuah desa yang terletak bersebalahan dengan desa tempat berdirinya Masjid Menara Kudus.

Masjid Bubrah – Demangan, Kudus

Lalu, kenapa masjid ini masih di pertahankan hingga saat ini?. Tentu saja karena nilai sejarahnya yang tinggi, sebagai saksi bisu perjuangan penyebaran Islam di Jawa Tengah zaman dahulu, sekitar abad ke-15 Masehi.

Bentuk Masjid Bubrah

Sesuai dengan namanya, bangunan Masjid Bubrah memang berupa bangunan yang sudah hampir roboh, berdenah seperti menara setengah jadi. Bangunannya memiliki panjang sekitar 4 meter, lebar 3 meter, dan tingginya hanya sekitar 2,5 meter. Beberapa bentuk lubang ventilasi udara memperlihatkan ciri-ciri Ornamen Swastika atau Meander, dengan beberapa ukiran bunga yang disematkan pada bagian kayu-kayunya. Sedangkan pada bagian dindingnya dibuat dengan motif anyaman ranting pohon, dengan posisi vertikal.

Selain itu, bentuk bangunannya dibuat dari batu bata merah, dengan bentuk fasad yang mengingatkan kita pada Menara Kudus.

Mitos Masjid Bubrah

Memang dari segi bangunannya sudah tidak menarik lagi, namun dari sisi mitos yang beredar sangat menarik untuk dibahas. Setidaknya ada 2 versi Mitos yang menyebar di masyarakat yaitu :

Versi pertama, masjid ini pada awalnya memang dibangun seperti Masjid Menara Kudus, namun pada saat pembangunan berlangsung, ada semacam makhluk ghaib yang menyamar menjadi manusia (kamanungsan), sehingga warga sekitar memutuskan untuk membatalkan pembangunan masjid tersebut.

Versi kedua, pada saat Pangeran Pontjowati ingin menyelesaikan pembangunan masjid ini, ketika itu waktu hampir subuh, tiba-tiba dia melihat seorang yang menyapu di sekitar bangunan tersebut. Kemudian sang pangeran pun meinggalkan tempat tersebut dan “Nyabda” janda tersebut untuk menjadi sebuah patung. Sehingga pembangunan masjid ini pun tidak diselesaikan karena kekhawatiran akan suatu hal yang mistis. Jika saat ini kita mengunjungi tempat ini, maka akan terlihat sebuah bentuk patung yang sangat kecil dan terpahat di dalam batu besar di areal masjid tersebut.

Sejarah Pembangunan Masjid Bubrah

arsitektur Masjid Bubrah – Demangan, Kudus

Sejarah lengkap poembangunan Masjid Bubrah versi lengkap sebagai berikut, dikisahkan bahwa Masjid Bubrah ini dibangun pada sekitar abad ke-15 oleh Pangeran Pontjowati yang berasal dari Kerajaan Majapahit.  Dulunya sang pangeran masih memeluk ajaran hindu, dan membangun tempat ini sebagai Buncik-an (tempat pemujaan umat Hindu pada zaman dulu).

Setelah masuknya agama Islam disana yang dibawa oleh Sunan Kudus, akhirnya masyarakat setempat memeluk agama islam. Kemudian, tempat tersebut digunakan sebagai tempat pertemuan para Wali. Pangeran Pontjowati pun juga ikut memeluk agama Islam, dan menjadi salah satu murid Sunan Kudus.

Konon, pahatan yang berada di seluruh bangunan masjid ini dipahat oleh Kyai The Ling Sing (Telinsing), yang merupakan seorang ulama China, sekaligus seorang arsitektural ukir yang kondang. Beliau juga menjadi salah seorang penasehat dari Sunan Kudus. Selain memiliki ukiran yang cukup unik, dulunya bangunan masjid ini ditopang oleh Saka Tunggal (sebuah penopang saja), dengan Batu Umpak sebagai dasarnya.

Batu Umpak itupun masih ada hingga saat ini, berdiameter 77 cm, dan memiliki tinggi sekitar 50 cm. sampai saat ini, berbagai ukiran unik masih terlihat dibangunan tersebut dan tetap dirawat dengan baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *