Masjid Jami’ An-Nawawi

Msjid Jami’ An-Nawawi merupakan sebuah masjid yang masih berdiri kokoh meskipun sudah berusia ratusan tahun lamanya. Lokasinya terletak di Kec. Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Tepatnya berada sekitar 1 Km di Utara komplek pemakaman Tanara, yaitu di Kampung Pesisir, Desa Pedaleman. Tidak ada informasi yang valid mengenai kapan Masjid Jami’An-Nawawi dibangun, namun dengan mengetahui tahun kelarhiran Syekh Nawawi pada tahun 1813 Masehi, bisa diambil kesimpulan bahwa Masjid ini dibangun antara tahun 1840-an hingga 1860-an.

Masjid Jami’ An-Nawawi

Siapakah Syekh Nawawi?

“Syekh Nawawi” atau “Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani” atau “Syekh Nawawi Al-Bantani” lahir pada tahun 1230 H / 1813 M, di Serang, Banten. Beliau mendirikan rumah, pesantren, dan masjid di Kampung Pesisir, Pedaleman. Beliau berjuang menyebarkan agama islam disana pada saat masa-masa pemerintahan Belanda, namun akibat intimidasi dan pengusiran Belanda, beliau kemudian hijrah ke Mekkah. Beliau kemudian tinggal di Mekkah hingga akhir hidupnya, dan dimakamkan di daerah Ma’la, Mekkah pada tahun 1314 H / 1897 M.

Beliau merupakan Seorang Ulama Internasional yang juga pernah menjadi Imam di Masjidil Haram, Mekkah. Ia diberi gelar Al-Bantani karena memang berasal dari Banten, Indonesia. Beliau juga menjadi seorang intelektual yang produktif dalam menulis kitab hasil karyanya. Bahkan jumlah karyanya lebih dari 115 kitab yang membahas secara khusus tentang ilmu Hadits, Tafsir, Tasawuf, Tauhid dan Ilmu Fiqih.

interior Masjid Jami’ An-Nawawi

Karena ketenaran dan kearifan beliau, Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar” Sayyidul Ulama Al-Hijaz” atau “Pemimpin Ulama Al-Hijaz”, dan “Al-Imam Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq” yang berarti “Imam yang Mumpuni Ilmunya”, Lalu “A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar Li Al-Hijrah”, atau “Ulama Abad Ke-14 Hijriyah”, Serta “Imamul Ulama’ Al-Haramain” yang artinya “Imam Dua Kota Suci”.

Beliau juga merupakan keturunan / silsilah dari Sayyidina Muhammad SAW, dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, kemudian dari Sayyidina Husayn. Jika dihitung beliau menempati silsilah Ke-36 dari keturunan Rasulullah SAW.

Setidaknya, beliau memiliki 19 guru termasuk K.H Sahal, seorang ulama masyhur di Banten, dan Syekh Baing Yusuf, Purwakarta Jawa Barat.

Selain itu, beliau juga merupakan seorang guru yang melahirkan ulama’ masyhur di Indonesia seperti Syekh Kholil Al-Bangkalani, Madura, KH. Hasyim Asyari, Jombang yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasan Genggong, pendiri PonPes Zainul Hasan, KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah, dan ulama-ulama masyhur lainnya.

Karamah Syekh Nawawi

Sebagai seorang yang dikasihi oleh Allah SWT, tentu saja Syekh Nawawi memiliki berbagai contoh Karamah seperti :

  • Telunjuk Bersinar Menjadi Lampung Penerang

Diceritakan bahwa pada saat dalam perjalanan Syuqduf (rumah di panggung unta), Syekh Nawawi pernah mengarang kita pada saat tanpa penerangan apapun. Beliau kemudian berdoa kepada Allah SWT agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu penerangan untuk menulis kitab. Kitab yang kemudian tercipta dari perjalanan tersebut adalah “Maraqi Al-Ubudiyyah”. Namun, cahaya yang diberikan Allah SWT tersebut membawa bekas yang tidak pernah hilang hingga akhir hayatnya.

  • Menunjukkan Ka’bah dari Tempat Lain yang Jauh

Diceritakan bahawa Karamah lain Syekh Nawawi juga pernah diperlihatkan saat mengunjungi Masjid Pekojan, Jakarta, yang dibangun oleh “Sayyid Utsman bin Agil bin Yahya Al-Alawi”, seorang mufti Betawi keturunan langsung Rasulullah SAW. Pada saat itu, Kiblat Masjid Pekojan salah, kemudian singkat cerita Syekh Nawawi yang umurnya jauh lebih muda dari Sayyid Utsman menempelkan lengannya ke Sayyid Utsman dan menunjukkan langsung Ka’bah yang terlihat dengan jelas.

Selain itu, masih banyak karamah lain yang dimiliki Syekh Nawawi seperti “Sholat Didalam Mulut Ular Yang Menganga” dan “Menulis Kitab Fenomenal” seperti Kitab Tafsir Munir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *