Masjid Kikisik – Masjid Yang Luput Dari Terjangan Lahar Gunung Galunggung

Masjid Kikisik, sebuah masjid yang luput dari terjangan lahar Gunung Galunggung terletak di Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya didalam komplek Pondok Pesantren Kikisik.

Masjid Kikisik ini pernah luput dari terjangan lahar pada tahun 1982. Ketika lahar dari Gunung Galunggung mulai membakar dan memporak-porandakan apa saja yang dilewatinya, Masjid, Kobong dan puluhan rumah penduduk yang tepat berada di lokasi cekungan justru selamat dari lahar tersebut.

Masjid Kikisik – Masjid Yang Luput Dari Terjangan Lahar Gunung Galunggung

Secara logika, tentu saja lahar dari gunung seharusnya juga melewati atau bahkan memporak-porandakan seluruh kawasan masjid tersebut. Namun, ajaibnya hal tersebut tidak terjadi dan lahar justru berbelok ke arah utara dan selatan dari masjid, sehingga komplek pondok pesantren, masjid, dan puluhan rumah warga sekitar selamat dari terjangan lahar.

Lolosnya wilayah pondok pesantren Kikisik beserta puluhan rumah warga sekitar kemudian menjadi buah bibir warga seluru Tasikmalaya. Tidak heran jika setelah situasi aman, banyak warga berbondong-bondong untuk menyaksikan keajaiban tersebut.

Sebut saja Uu Suhartadi, seorang warga jalan bantar yang menjadi saksi mata insiden tersebut menceritakan bahwa jika melihat dari lokasinya, seluruh wilayah pondok pesantren kikisik dan masjid ini seharusnya luluh lantak dengan tanah.

Menurut beberapa warga sekitar, luputnya komplek pondok pesantren kikisik dari terjangan lahar panas tersebut tidak luput dari usaha pendiri pondok pesantren tersebut, Almarhum Kh. Ahmad Sadeli. Pada saat beliau masih hidup, beliau mengusahakan suatu cara yang bisa dibilang tidak masuk akal agar lahar tidak dapat menerjang kawasan tersebut.

Menurut putra beliau, KH. Kusnadi, sebelum lahar datang, KH. Ahmad Sadeli sudah memberi tahu warga bawa akan ada lahar yang datang. Seluruh warga beserta murid pondok pesantren tersebut kemudian diajak ke arah barat, menghadap langsung ke kawah gunung. Sang Kyai kemudian memasang sejumlah daun kelapa atau biasa disebut dengan Barangbang, dan beberapa batu didepannya. Begitu lahar datang, lahar tersebut langsung terbagi dan berbelok ke arah utara dan selatan. Inilah yang membutikan kema’rifatan KH. Ahmad Sadeli.

Meskipun luput dari terjangan lahar panas, namun wilayah tersebut tidak luput dari hujan abu yang ketebalannya mencapai 30 cm. Masjid dengan ukuran 12 x 9 meter tersebut hanya menderita kerusakan kecil, terutama pada bagian atap karena kejatuhan batu. Menurut Kusnadi, bahkan ada batu sebesar meja yang melayang di wilayah tersebut, namun untungnya batu tersebut jatuh di tengah-tengah kolam.

arsitektur Masjid Kikisik – Masjid Yang Luput Dari Terjangan Lahar Gunung Galunggung

Setelah letusan Gunung Galunggung mereka sekitar tahun 1983, KH. Ahmad Sadeli beserta warga sekitar berinisiatif untuk melakukan renovasi terhadap masjid yang dibangun pada tahun 1950-an tersebut. Sebelumnya, kondisinya memang sedikit mengkhawatirkan karena abu tebal yang masih menempel di atas atapnya.

Pelaksanaan renovasi baru dilakukan pada tahun 1984 karena terkendala biaya. Untuk penghematan biaya abu pasir dari gunung kemudian dibuat batako dengan cetakan yang berasal dari bantuan pemerintah Dinas Provinsi. Ukuran bangunan utamanya kemudian diperluas menjadi 25 x 12 meter.

Hingga kini, Masjid Kikisik selalu ramai oleh para jamaah, karena warga sekitar sadar betul bahwa tanpa izin dari kuasa Allah yang turun lewat masjid tersebut lahar yang menerpa wilayah tersebut akan mengubur seluruh warga.

Warga sekitar terus menerus mementingkan kemakmuran masjid ini hingga kini. Bangunannya pun sudah dipercantik dengan desain modern, dengan pemasangan keramik sebagai lantai dan hiasan dinding masjidnya, serta pagar besi anti karat yang dipasang disekelilingnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *