Masjid Raja Haji Abdul Gani, Karimun

Di Pulau Sumatera tepatnya di Kepulauan Riau terdapat sebuah bangunan masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi. Masjid tersebut bernama masjid Raja Haji Abdul Ghani. Masjid tersebut berada di Desa Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau. Selain memiliki nilai sejarah, masjid Raja Haji Abdul Ghani juga merupakan sebuah bangunan masjid yang sudah lama berdiri dan termasuk masjid tertua yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Masjid tersebut juga menjadi masjid tertua yang ada di Kabupaten Karimun dan menjadi bangunan masjid tertua kedua yang ada di Provinsi Kepulauan Riau yang sebelumnya adalah masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat Kota Tanjung Pinang.

Nama masjid ini berbeda dengan beberapa masjid pada umumnya karena disesuaikan dengan nama orang yang membangun masjid Raja Haji Abdul Ghani. Nama lengkap dari beliau adalah Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raha Haji Fisabilillah. Tak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah umat muslim saja, masjid tersebut juga menjadi bangunan masjid yang dibanggakan oleh warga Karimun. Selain itu dengan adanya masjid tersebut menjadi ikon wisata Pulau Buru serta menjadi sebuah salah satu situs cagar budaya Nasional. Hal tersebut karena adanya sejarah dari pembangunan masjid tersebut serta usia dari masjidnya yang sudah sangat lama.

masjid raja haji abdul ghani

Proses pembangunan masjid Raja Haji Abdul Ghani dimulai pada masa kerajaan Riau-Lingga di masa kekuasaan Sultan Abdul Rahman sekitar tahun 1883-1911. Masjid tersebut memiliki luas dengan ukuran  x 15 meter serta dapat menampung jamaah yang mencapai 100 jamaah. Seperti halnya dengan bangunan masjid peninggalan dari kesultanan Meayu, masjid Raja Haji Abdul Ghani memiliki corak tambahan warna hijau serta didominasi dengan warna kuning yang mencerminkan sebagai warna kebesaran Kesultanan Melayu.

Bangunan masjid Raja Haji Abdul Ghani berdenah segi empat dengan atap limas yang bersusun dua. Pada bagian struktur atapnya ditopang menggunakan empat soko guru yang masing-masing ukurannya mencapai lima meter. Pada bagian pintu utama masjid berbentuk lengkungan yang tinggi mencapai 2.3 meter serta lebar 1.3 meter. Namun beberapa pintu lainnya terlihat lebih pendek. Jika diperhatikan secara jelas, dari bangunan masjid Raja Haji Abdul Ghani memiliki menara yang bentuknya berbeda. Dimana menara tersebut pada bagian ujungnya berbentuk kerucut sepintas mirip dengan ruang pembakaran hio yang berada di kelenteng. Menara tersebut hanya ada satu dengan tingginya yang mencapai 21 meter dengan berdiameter 4 meter.  Pada bagian menara tersebut juga terdapat ornamen lubang-lubang ventilasi dari batu giok yang berukir. Telah disebutkan kemiripan bangunan masjid Raja Haji Abdul Ghani dengan sebah kelenteng tersebut adalah hasil sebuah rancangan yang dilakukan oleh orang Tionghoa.

masjid raja haji abdul ghani.

Namun sayangnya, menara masjid Raja Haji Abdul Ghani yang unik tersebut pernah mengalami kerusakan pada bagian ujung tertingginya dikarenakan tersambar petir. Kejadian tersebut tepat pada 15 November 2015 kemarin. Namun sekarang menara tersebut telah diperbaiki kembali. Menara masjid tersebut juga dapat dilihat dari kejauhan bahkan sebelum kapal merapat ke pelabuhan. Hal tersebut juga dikarenakan lokasi masjid tersebut berdiri menghadap ke lautan dan dekat dengan bibir pantai. Maka sipa saja yang berada di kapal dapat melihat menara masjid dari kejauhan sebelum tiba di pelabuhan. Meskipun usianya sudah tua namun masjid Raja Haji Abdul Ghani masih difungsikan secara baik oleh para jamaah. Bahkan amsjid tersebut juga selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan local atau mancanegara terutana pada saat peringatan hari-hari Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *