Masjid Sela – Masjid Peninggalan Sultan Hamengkubuwono I

Masjid Sela yang menjadi salah satu peninggalan tertua dan bersejarah di Yogyakarta. Berlokasi di RT/RW 41/11, Dusun Panembahan, Desa Panembahan, Kecamatan Keraton, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi masjid ini terletak di kawasan yang cukup padat penduduk, sehingga untuk masuk pada masjid ini harus melewati gang kecil sempit di perkampungan tersebut. Bahkan untuk pengguna Roda 2 harus menuntun kendaraannya jika ingin masuk pada masjid ini.

masjid sela

Arsitektural Masjid Sela –Masjd Peninggalan Sultan Hamengkubowono I

Masjid Sela dibangun dengan ukuran yang cukup kecil, hanya seperti sebuah bangunan musholla saja yaitu sekitar 6 x 6 meter. Bangunan masjid berdiri diatas lahan seluas 7 x 8 meter saja, dan hanya bisa menampung sekitar 30 hingga 40 jamaah saja sekaligus. Beberapa bagian bangunan memang sudah sempat diganti, namun pada bagian atapnya merupakan bangunan asli dengan motip atap wajik. Kemuncak yang dipasang dibagian puncak masjid ini juga masih asli dari bangunan lama. Bentuknya kerucut dengan ornamen unik seluruh bagian sisi dan sudutnya. Kemuncak seperti ini baisanya ditemukan pada masjid-masjid di Pulau Jawa yang masih mempertahankan keasliannya.

Masjid ini pada awalnya dilengkapi dengan kolam di bagian halamannya, persis seperti masjid-masjid Jawa masa lalu. Kolam pada halaman tersebut digunakan sebagai tempat untuk mencuci kaki bagi siapapun pengunjung yang ingin memasuki masjid ini. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk pensucian diri yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu, terutama pihak keratonan. Namu saat ini, kolam tersebut sudah tidak ada lagi, karena sudah tergantikan oleh lantai dari ubin batu.

masjid sela

Pada tahun 1960-an, kompleks masjid ini memang sempat terbengkalai. Ruang masjidnya bahkan digunakan sebagai tempat untuk menyimpan keranda (alat angkat orang meninggal), dan kolam didepan masjid bahkan pernah digunakan untuk pembuangan sampah. Barulah pada sekitar tahun 1965-an, dilakukan pemugaran untuk memulihkan kondisinya, kemudian setelah selesai pemugaran Masjid Sela difungsikan kembali sebagaimana mestinya.

Masjid Untuk Pangeran

Masjid Sela pada mulanya dijadikan sebagai sebuah masjdi panepen (masjid untuk menepi, mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa),  yang memang sengaja dibuat didalam komplek dalem pangeran. Jadi jika mengingat pada zaman dulu, masjid ini seperti memiliki fungsi sebagai musholla khusus untuk pangeran.

Sebagai Masjid Panepen, atau masjid untuk menyendiri, atau untuk bersemedi, masjid ini memang difungsikan sebagai tempatuntuk mencari petunjuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Tidak hanya pangeran saja yang menggunakan masjid ini, namun keluarga lain termasuk Sultan Hamengkubuwono I juga menjadikan tempat ini sebagai tempat menyendiri.

Jika kita merujuk pada prasasti yang terukir dipapan kayu diatas pintu masjid ini, Masjid Sela dibangun pada sekitar tahun 1787 Miladiyah, atau 1709 Saka, dimana pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I (1755 – 1792).

masjid sela

Kegiatan Masjid Sela

Meskipun bukan menjadi masjid agung, dan hanya memiliki ukuran yang kecil, namun kegiatan pada masjid ini masih berjalan dengan baik. Sholat berjamaah setiap harinya juga tetap dilakukan, kemudian kegiatan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) juga turut dilakukan. Hal ini mengingat bahwa masjid ini memnag terletak di antara pemukiman padat penduduk, sehingga penduduk sekitar bisa menggunakan Masjid Sela sebagai tempat belajar tentang keislaman.

Meskipun hanya terletak di kawasan yang kecil, namun pada hari-hari besar Islam, terutama pergantian tahun Hijriyah (1 Suro), masjid ini tetap ramai untuk melek’an (begadang) hingga pagi hari mengikuti budaya yang sudah dianut dipulau jawa dari zaman dulu kala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *